Awalnya, ketika seorang pria benar-benar jatuh cinta kepada seorang
wanita, dunia terasa indah. Hidup jadi lebih bersemangat dan penuh arti.
Apa saja tentang wanita tersebut pasti akan menarik perhatiannya.
Setiap kali bertemu, hati bergetar dan jantung pun berdebar. Kemudian,
ketika pria menyatakan cinta dan wanita menerima, mereka pun sepakat
untuk pacaran. Masa pacaran adalah masa yang paling indah karena
memberikan kesempatan untuk mengenal satu sama lain secara lebih
mendalam.
Ketika pasangan akhirnya memutuskan untuk menikah dan mengucapkan janji
setia; dalam suka maupun duka, ketika sehat ataupun sakit, di saat
senang ataupun susah—kata-kata tersebut pastilah keluar dari lubuk hati
yang terdalam. Artinya, pasangan tersebut telah bersepakat untuk memulai
hidup baru bersama dengan modal utama adalah cinta yang mereka miliki.
Cinta yang dipercaya akan menjadi perekat hati mereka untuk
selama-lamanya sampai maut datang memisahkan.
Akan tetapi, yang sering kita jumpai adalah cinta menjadi luntur hanya
setelah beberapa tahun menikah. Bahkan, ada yang di saat pernikahan baru
berjalan beberapa bulan atau bahkan ada yang dalam hitungan minggu
saja. Mengapa ini bisa terjadi?
Kita semua tahu bahwa di saat pacaran, cinta itu selalu ada karena
adanya rasa penasaran yang menyebabkan letupan-letupan kecil di dalam
hati. Ketika akan bertemu, pria mungkin bertanya-tanya dalam hati, “Apa
yang akan saya katakan kepadanya jika dia keluar menyambut kedatangan
saya?” Ketika pasangannya marah, pria selalu tertantang untuk
memenangkan hatinya kembali. Segalanya terasa indah sampai ketika
pasangan memasuki fase yang namanya ‘perkawinan’.
Setelah resmi menikah dan tinggal di bawah satu atap, di sinilah masalah
berawal. Tanpa disadari, kita mulai terbelenggu dengan apa yang disebut
‘rutinitas’ dan ditambah lagi dengan kehadiran anak dalam keluarga.
Wanita yang bekerja di luar rumah dan juga harus menjalankan perannya
sebagai seorang ibu pasti memiliki beban yang lebih berat dibandingkan
dengan wanita yang tidak bekerja.
Akibatnya, tanpa disadari, ketika anak dan pekerjaan menjadi prioritas
utama, wanita hampir tidak mempunyai waktu luang untuk memadu kasih
dengan pria yang menjadi pasangan hidupnya. Kasih itu bagaikan tanaman
yang membutuhkan pupuk untuk menjadi besar dan subur. Pupuk yang utama
dalam agar cinta dan kasih dapat tumbuh subur adalah ‘komunikasi’.









